
Jakarta, Gizmologi – Layanan personal training virtual yang dulu dianggap alternatif, kini justru menjadi pilihan utama banyak orang. Didukung media sosial seperti Instagram dan TikTok, pelatih pribadi bertransformasi menjadi influencer yang menawarkan program kebugaran berbayar secara daring. Fenomena ini membawa peluang besar, baik bagi konsumen maupun pelatih, namun juga menyimpan potensi risiko.
Bersamaan dengan meningkatnya popularitas, potensi ancaman keamanan data pribadi pun ikut tumbuh. Dari berbagi foto transformasi, detail kesehatan, hingga informasi keuangan, sebagian besar interaksi antara klien dan pelatih dilakukan tanpa kontrak formal. Celah inilah yang membuat data sensitif rawan bocor atau disalahgunakan. Kasus-kasus penyalahgunaan data di aplikasi kebugaran pun memberi gambaran bahwa sektor fitness online tak luput dari incaran pelaku kejahatan siber.
Meski demikian, penting diingat bahwa fitness online tidak serta-merta berbahaya. Banyak pengguna tetap merasakan manfaat positif dari fleksibilitas dan motivasi yang ditawarkan. Pakar mengingatkan, layaknya pemanasan sebelum olahraga, pengguna sebaiknya melakukan langkah perlindungan digital sebelum benar-benar mendaftar atau berbagi data dengan pihak ketiga.
Baca Juga: Ekspansi ke Layanan Digital, Amartha Financial Siap Layani 50 Ribu Desa
Risiko yang Mengintai di Balik Layanan Fitness Online
Kaspersky menyoroti beberapa bentuk ancaman yang patut diwaspadai. Pertama, penggunaan layanan pihak ketiga dalam mengelola jadwal, pembayaran, dan komunikasi klien. Tidak semua platform tersebut memiliki standar keamanan yang memadai. Jika salah satunya diretas, data kesehatan, lokasi, hingga detail pembayaran bisa terekspos.
Kedua, foto transformasi yang kerap dibagikan klien kepada pelatih juga berisiko disalahgunakan. Foto pribadi yang memperlihatkan bentuk tubuh secara detail dapat bocor ke ruang publik jika platform perpesanan tidak aman. Lebih buruk lagi, konten tersebut bisa dipakai untuk pencurian identitas atau pelecehan daring.
Selain itu, akun pelatih yang dibajak juga dapat dijadikan alat penipuan. Dengan berpura-pura sebagai pelatih terpercaya, pelaku bisa menipu klien untuk memberikan data pribadi atau melakukan pembayaran ilegal. Karena pesan berasal dari akun yang familiar, korban lebih mudah terperdaya.
Tips Aman agar Tetap Nyaman Berolahraga Online
Untuk meminimalkan risiko, pakar privasi Kaspersky, Anna Larkina, menyarankan pengguna lebih waspada dalam memilih layanan. Langkah awal bisa dimulai dari memverifikasi kredensial pelatih, mencari testimoni asli dari klien, hingga memastikan profil media sosial pelatih terverifikasi.
Pengguna juga disarankan untuk berhati-hati terhadap tautan mencurigakan yang ditawarkan lewat pesan atau email. Lebih aman jika mengakses langsung situs resmi pelatih atau platform kebugaran terpercaya. Selain itu, pastikan situs memiliki sertifikat keamanan HTTPS sebelum melakukan transaksi atau berbagi data sensitif.
Terakhir, hindari memberikan informasi berlebihan. Foto transformasi sebaiknya dibagikan melalui platform yang terenkripsi, tanpa mencantumkan wajah atau detail pribadi lain. Solusi keamanan siber seperti Kaspersky Premium juga bisa menjadi lapisan perlindungan tambahan dari malware, phishing, hingga skimmer kartu kredit.
Artikel berjudul Waspada Penipuan di Layanan Fitness Online, Pakar Ingatkan Risiko Data Pribadi yang ditulis oleh Christopher Louis pertama kali tampil di Gizmologi.id