"Fenomena Social Media: Kenapa Masyarakat Indonesia Makin Mudah Terprovokasi?"

"Fenomena Social Media: Kenapa Masyarakat Indonesia Makin Mudah Terprovokasi?"

Mar 19, 2025 - 22:36
 0  0
"Fenomena Social Media: Kenapa Masyarakat Indonesia Makin Mudah Terprovokasi?"

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam scrolling di ponsel mereka. Namun, ada satu fenomena yang semakin mencolok belakangan ini—masyarakat Indonesia makin mudah terprovokasi oleh berita, opini, atau bahkan sekadar komentar di media sosial. Kenapa hal ini bisa terjadi?

1. Algoritma Media Sosial Membentuk "Echo Chamber"

Sadar atau tidak, media sosial mengarahkan kita pada konten yang sesuai dengan minat dan opini kita. Algoritma platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok bekerja dengan cara menunjukkan konten yang sering kita sukai atau komentari. Hal ini menciptakan efek "echo chamber", di mana kita hanya melihat pendapat yang sejalan dengan kita, sehingga sulit menerima sudut pandang lain.

2. Hoaks dan Sensasi Lebih Cepat Menyebar Dibanding Fakta

Studi menunjukkan bahwa informasi yang memicu emosi—baik kemarahan, ketakutan, atau kebahagiaan—lebih cepat viral dibanding informasi netral. Sayangnya, berita hoaks sering kali dikemas dengan judul sensasional yang membuat orang tergoda untuk langsung membagikan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

3. Budaya "FOMO" (Fear of Missing Out) yang Makin Kuat

Banyak orang takut dianggap ketinggalan jika tidak ikut berkomentar atau membagikan suatu isu yang sedang viral. Akibatnya, mereka cenderung bereaksi cepat tanpa berpikir panjang. Ditambah lagi, budaya cancel culture yang semakin populer membuat orang merasa perlu segera "menyalahkan" pihak tertentu agar tidak dianggap mendukung sesuatu yang salah.

4. Kurangnya Literasi Digital dan Critical Thinking

Meski jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat, tingkat literasi digital masih tergolong rendah. Banyak yang belum terbiasa melakukan cross-check sumber berita atau berpikir kritis terhadap informasi yang mereka konsumsi. Akibatnya, mereka mudah termakan propaganda atau narasi yang belum tentu benar.

Bagaimana Solusinya?

Agar tidak mudah terprovokasi di media sosial, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Verifikasi informasi sebelum membagikan – Gunakan situs pengecekan fakta seperti TurnBackHoax atau CekFakta.
Berlatih berpikir kritis – Jangan langsung percaya pada berita hanya karena banyak orang membagikannya.
Keluar dari "echo chamber" – Coba baca berita atau opini dari berbagai sudut pandang sebelum menarik kesimpulan.
Kurangi waktu scrolling tanpa tujuan – Media sosial memang menarik, tetapi terlalu lama terpapar informasi yang penuh emosi bisa membuat kita lebih mudah tersulut.

Dengan memahami cara kerja media sosial dan belajar mengontrol emosi, kita bisa menjadi pengguna internet yang lebih bijak. Ingat, tidak semua hal perlu dikomentari, dan tidak semua berita layak untuk dipercaya. Bijaklah dalam bersosial media!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0