Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat Indonesia, untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan atau skrining kanker.
Imbauan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Kanker Sedunia, yang digelar oleh RS Kanker Dharmais, baru-baru ini.
Menteri Kesehatan menegaskan bahwa seiring kemajuan teknologi medis, kanker bukan lagi penyakit yang tidak dapat diobati.
‘’Kanker sekarang itu bisa disembuhkan. Cancer is curable. Jadi tidak usah takut bahwa, aduh, kalau kena kanker lebih baik saya tidak diperiksa saja,” ujar Budi, seperti dirilis kemkes.go.id.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan pengobatan kanker terletak pada kecepatan menemukan sel kanker sejak stadium awal melalui deteksi dini.
Sebagai langkah konkret, pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis setiap tahun bagi 280 juta penduduk Indonesia melalui program Presiden Prabowo.
Layanan tersebut mencakup skrining kanker payudara secara gratis, khususnya bagi perempuan berusia di atas 30 tahun.
Untuk memperluas akses layanan, pemerintah juga telah mendistribusikan 10.000 alat ultrasonografi (USG) ke berbagai puskesmas serta melatih dokter umum agar mampu melakukan skrining awal.
Selain itu, fasilitas pendukung seperti layanan kemoterapi telah tersedia di 514 rumah sakit untuk menangani pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.
“Jangan lagi ada rasa takut atau khawatir yang membuat kita enggan melakukan skrining,” tegas Menkes.
Ia menekankan bahwa kanker merupakan penyakit yang dapat diobati apabila ditemukan lebih cepat melalui pemanfaatan fasilitas kesehatan yang telah disediakan pemerintah.
Sementara itu ketika membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2025), Budi Gunadi Sadikin mengatakan jika ditemukan sejak dini, kanker bukan lagi vonis menakutkan.
Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, tingkat kesembuhan kanker tergolong tinggi, selama masyarakat berani melakukan deteksi dini.
Menurut Menkes, ketakutan untuk memeriksakan diri justru menjadi penghalang utama dalam penanganan kanker yang optimal.
“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Menkes Budi.
Senada dengan Menkes, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Murti Utami yang biasa disapa Ami, memaparkan data yang menunjukkan urgensi deteksi dini kanker.
Ia menyebutkan, 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan penanganan.
“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Ami.
Kanker, lanjut Ami, termasuk penyakit katastropik dengan pembiayaan tinggi. Tercatat, anggaran sebesar Rp5,9 triliun dikeluarkan negara untuk perawatan kanker.
“Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,” katanya.
Untuk menekan angka kematian dan pembiayaan tersebut, Kementerian Kesehatan meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara.
Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.
Namun, Menkes Budi mengungkapkan masih adanya kesenjangan partisipasi. Dari target 40 juta orang, baru sekitar 4 juta yang datang untuk skrining. Masalah utamanya adalah rasa takut dan penyangkalan (denial) di masyarakat.
“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyediakan alat skrining hingga ke pelosok. Sebagai penyintas kanker, Linda menjadi bukti hidup pentingnya deteksi dini.
“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” kata Linda.
Sumber : halosemarang.id
